Menu

A. storytelling dianggap mampu untuk memberikan nasehat

0 Comment

A.    
Latar Belakang

Usia dini
merupakan golden age atau periode emas bagi seorang anak. Pada usia 0 sampai 6
tahun otak anak mengalami pertumbuhan atau perkembangan yang sangat pesat. Pada
usia dini merupakan tahap awal bagi perkembangan kemampuan motorik dan
emosional anak. Dengan kemampuan perkembangan anak saat usia dini maka sangat
diperlukan peran serta orang tua dalam membimbing anak, menggali potensi dalam
diri anak. Maka dari itu usia dini merupakan tahap yang tepat dalam memberikan
stimulasi kepada anak.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Pada usia dini
perkembangan motorik anak semakin baik, sejalan dengan perkembangan kognitifnya
yang mulai kreatif dan imajinatif. Daya imajinatif yang tinggi, membuat anak
semakin suka menemukan hal-hal baru. Anak-anak pada usia dini memiliki karakter
yang unik, mereka lebih suka bermain dan bersenang-senang. Maka dari itu
dibutuhkan metode-metode yang pas untuk merangsang perkembangan anak. Banyak
metode yang dapat dilakukan orang tua untuk menstimulasi kemampuan motorik anak
yaitu dengan cara bernyayi, bermain dan bercerita. Metode bercerita ini dapat
disebut juga dengan storytelling. Berdasarkan penelitian-penelitian yang telah
dilakukan sebelumnya metode bercerita atau storytelling adalah metode
yang paling banyak digunakan atau dianggap sebagai metode yang paling efektif
untuk menstimulasi kemampuan anak. Setiap metode yang digunakan pastinya
memiliki kelemahan dan kelebihan, dari penelitian yang telah dilakukan storytelling
dianggap mampu untuk memberikan nasehat kepada anak tanpa memberikan kesan
memarahi anak, dengan storytelling anak dapat mengambil hikmah dari isi cerita.
Dengan metode storytelling ini anak akan merasa lebih nyaman karena
dengan metode storytelling ini para orang tua dapat menasehati anak dan
memberikan pelajaran tanpa kesan memarahi.1

Michael dalam
Muallifah menyatakan storytelling merupakan sebuah metode yang mampu
untuk mengembangkan kemampuan kognitif dan bahasa anak. Selain itu, storytelling
juga memiliki bebrapa manfaat yaitu dengan storytelling dapat menanamkan
sifat kejujuran, empati, simpati, keramahan, dan ketulusan kepada anak. Storytelling
dapat memberikan pengetahuan moral, sosial dan kebudayaan kepada anak. Storytelling
juga dapat mengajarkan rasa sopan santun kepada anak dengan mendengarkan orang
bercerita. Storytelling juga dapat meningkatkan kretifitas dan imajinasi
anak.2

Dari latar
belakang diatas, storytelling merupakan sebuah metode yang dapat
menggali potensi anak dan menumbuhkan kreatifitas bagi anak baik dari aspek
kognitif, psikomotor dan pengetahuan moral bagi anak. Storytelling
memiliki berbagai manfaat yang dapat dijadikan metode oleh orang tua maupun
guru pengajar dalam mengajarkan anak dan untuk meningkatkan kecerdasan anak.
Maka dari itu penulis menarik untuk menulis penelitian dengan judul “STORYTELLING
SEBAGAI METODE PARENTING UNTUK PENGEMBANGAN KECERDASAN ANAK USIA DINI”. semoga
tulisan ini dapat dimanfaatkan sebagai bahn rujukan dalam mendidik anak bagi
para orang tua.

 

B.    
Tujuan

Tujuan dari paper ini yaitu untuk
mengetahui storytelling sebagai metode parenting untuk
pengembangan kecerdasan anak usia dini, mengetahun manfaat storytelling
melalui metode parenting untuk mengembangkan kecerdasaan anak usia dini.
Sehingga dari tujuan tersebut dapat meningkatkan pemahaman orang tua dalam
upaya meningkatkan kecerdasan anak.

 

C.    
Metode Penelitian

Metode
penelitian ini menggunalan pendekatan kualitatif. Pendektan penelitian
kualitatif yaitu penelitian dengan alat bantu untuk memaparkan dan memahami
makna yang berasal dari individu dan kelompok mengenai masalah sosial atau masalah
individu.3 Dalam
penelitian ini melibatkan beberapa orang informan yaitu sebanyak 4 orang
dintaranya 2 guru paud yang menggunakan metode storytelling dan 2 orang tua
yang sering mendongeng. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu dengan
melakukan wawancara kepada 2 guru paud dan 2 orang tua. Hasil dari wawancara
tersebut kemudian ditarik kesimpulan untuk dianalisa.

 

D.    
Pembahasan dan Hasil

1.     
Pembahasan

a.     
Storytelling

Menurut Echols
dalam Kuntum storytelling terbagi atas dua suku kata yaitu story
yang berarti cerita dan telling berarti penceritaan. Jika digabungkan
maka storytelling merupakan menceritakan sebuah cerita atau penceritaan
sebuah cerita. Pendapat lain mengatakan storytelling merupakan suatu
kegiatan yang dilakukan oleh pendongeng untuk menyampaikan isi pikiran atau
perasaan secara lisan kepada orang lain. Maka dapat disimpulkan storytelling
merupakan menceritakan sebuah cerita dengan tujuan untuk menyampaikan isi
fikiran atau perasaan kepada seseorang dalam konteks ini adalah anak-anak.4

Storytelling tidak hanya
bermanfaat bagi orang tua tetapi juga guru. Loban dalam kuntum mengatakan
storytelling dapat dijadikan motivasi untuk mengembangkan kesadaran dan
memperluas imajinasi. Kegiatan storytelling dapat dilakukan dalam
berbagai keadaan baik saat anak-anak sedang bermain, belajar, maupun menjelang
tidur. Banyak dari orang tua menggiatkan storytelling kepada anaknya
dalam keadaan anak sedang bermain maupun saat mau tidur.

Menurut
Pellowski dalam Rita, storytelling merupakan seni dalam menyampaikan
cerita, cerita-cerita yang disampaikan disajikan dalam bentuk prosa maupun
syair. Seni ini ditampilkan oleh satu orang yang didengar secara langsung dalam
berbagai bentuk, misalnya dalam bentuk diceritakan sambil dinyanyikan,
menggunakan musik maupun tidak, menggunakan alat peraga maupun tidak, dan dapat
pula disajikan dengan berbagai gaya. Dengan metode bercerita dapat menyampaikan
kesan dan pesan kepada pendengar terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam
cerita. Dalam proses bercerita pemilihan cerita harus disesuaikan terhadap
pengalaman serta kemampuan pendengar, agar pendengar dapat menerima pesan dan
nilai-nilai yang terkandung dalam sebuah cerita.5

Hal yang perlu diperhatikan
dalam kegiatan storytelling adalah proses. Pencerita harus mampu mengemas
cerita yang disampaikan semenarik mungkin. Storytelling melibatkan
interaksi dua arah antara pencerita dan pendengar, agar komunikasi dapat
terjalin maka harus diperhatikan tahapan-tahapan dalam bercerita, terknik yang
digunakan serta memperhatikan siapa saja yang terlibat dalam proses
storytelling. Hal ini perlu diperhatikan agar kegiatan bercerita dapat berjalan
dengan lancar dan pendengar mampu menyerap isi kandungan dari cerita yang
disampaikan.

 

b.     
Parenting (Pola Asuh)

Parenting atau pola asuh
secara bahasa diartikan sebagai kemampuan orang tua dalam mengasuh anak. Shohib
dalam Kuntum menyatakan bahwa parenting merupakan cara yang digunakan
oleh orang tua untuk mengasuh anak baik secara langsung maupun tidak langsung.
Baumrind dalam Kuntum menyatakan bahwa pola asuh atau parental control
merupakan bagian atau cara dari orang tua dalam mengontrol, membimbing serta
mendampingi anak dalam melakukan segala tugas bagi perkembangan dan proses
menuju pendewasaannya. Sama halnya dengan Kohn dalam kuntum mengatakan bahwa parenting
atau pola asuh atau pengasuhan merupakan cara orang tua berinteraksi dengan
anak yang meliputi pemberian aturan, hadiah, hukuman dan pemberian perhatian,
serta tanggapan orangtua terhadap setiap prilaku anak. Sedangkan Karen dalam
Kuntum menyatakan bahwa kualitas pola asuh yang baik adalah apabila orangtua
mampu mengontrol dan memahami masalah yang sedang dihadapi oleh anak, sehingga
apabila anak memiliki masalah orangtua dapat mengetahui dan memberikan
bimbingan kepada anak sesuai dengan masalah yang dihadapi anak.6

Dari pendapat
mengenai parenting atau pola asuh yang dinyatakan diatas menunjukan  bahwa parenting mencakup beberapa
pemahaman, diantaranya:

1)     
Parenting bertujuan
untuk mendorong pertumbuhan dan perkembangan anak secara optimal, baik secara
fisik, mental maupun sosial.

2)     
Parenting merupakan
sebuah proses interaksi secara terus-menerus antara orang tua dengan anak.

3)     
Parenting adalah sebuah
proses sosialisasi.

4)     
Parenting sebagai proses
interaksi dan sosialisasi proses pengasuhan tidak bisa dilepaskan dari sosial
budaya dimana anak dibesarkan.

Menurut
Baumrind dalam Muallifah, tipe parenting atau pola asuh ada tiga macam,
yaitu:

1)     
Pola asuh authoritarian.

2)     
Pola asuh authoritative.

3)     
Pola asuh permisive.

Berdasarkan
tipe parenting atau pola asuh diatas maka masing-masing dari tipe
memiliki ciri-ciri yang berbeda. Bentuk pola asuh authoritarian memiliki
ciri-ciri yaitu sebagai berikut:

1)     
Orangtua dalam memperlakukan anaknya
bersifat tegas.

2)     
Anak yang dianggap salah akan
dihukum oleh orangtua.

3)     
Kurang memiliki kasih sayang dari
orang tua.

4)     
Mudah menyalahkan segala aktivitas
anak terutama ketika anak ingin berlaku kreatif.

Pada prilaku authoritarian,
orangtua suka memaksakan kehendak kepada anak-anaknya. Anak-anak dipaksa untuk
patuh terhadap aturan-aturan yang sudah ditetapkan oleh orangtua, berusaha
membentuk tingkah laku, sikap serta cenderung mengekang keinginan anak-anaknya.
Orangtua tidak memberikan apresiasi kepada anak saat mendapat prestasi yang
menurut anak akan dapat membanggakan orangtuanya, anak dituntut untuk besikap
dewasa dan membatasi hak-hak anak.

Pola authoritative
mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:7

1)     
Hak dan kewajiban antara anak dan
orangtua diberikan secara seimbang.

2)     
Orangtua melibat anak dalam
mengambil sebuah keputusan yang penting terkait kepentingan keluarga, saling
melengkapi pendapat antara anak dan orangtua.

3)     
Memiliki tingkat pengendalian tinggi
dan mengharuskan anak-anaknya bertindak pada tingkat intelektual dan sosial
sesuai usia dan kemampuan mereka. Tetapi mereka tetap memberi kehangatan,
bimbingan, dan komunikasi dua arah kepada anak.

4)     
Memberikan penjelasan dan alasan
atas hukuman dan larangan yang diberikan oleh orangtua kepada anak.

5)     
Mendukung apa yang saja hal
dilakukan oleh anak, tanpa membatasi segala potensi yang dimilikinya serta
kreativitasnya namun tetap membimbing dan mengarahkan anak-anaknya.

Sedangkan pola
asuh permisive memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

1)     
Orangtua memberikan kebebasan kepada
anaknya.

2)     
Anak tidak diajarkan untuk belajar
bertanggung jawab.

3)     
Anak diberikan hak yang sama seperti
halnya orang dewasa, anak diberikan kebebasan yang seluas-luasnya untuk
mengatur diri sendiri.

4)     
Orangtua tidak banyak mengatur dan
tidak banyak mengontrol, sehingga anak tidak diberi kesempatan untuk mandiri
dan mengatur diri sendiri dan diberikan kewenangan untuk mengontrol dirinya sendiri.

Dari penjelasan dari tipe parenting di atas bisa disimpulkan
bahwa tipe parenting atau  pola
asuh model otoriatatif ini mampu meningkatkan psikososial anak, lebih
efektif memberikan kebebasan anak dalam mengekspresikan dan mengaktualisasikan
potensinya dan membuat anak menjadi lebih kreatif. Pendapat inipun didukung
oleh sebuah penelitian yang telah dilakukan sebelumnya oleh Enoch Markum bahwa
pola asuh tipe otoritatif dapat untuk berprestasi dan meningkatkan
kreatifitas anak.

 

c.      
Storytelling sebagai Metode
Parenting (Model Parenting Authoritative)

Menggunakan
metode storytelling sebagai metode parenting dapat memberikan
banyak manfaat salah satunya yaitu membangun kecerdasan anak. Ada tiga model parenting
namun yang paling efektif untuk digunakan yaitu model parenting authoritative.
Parenting authoritative digunakan dalam storytelling
sebagai metode mencerdaskan anak, meningkatkan kecerdasan bahasa anak, membuat
anak menjadi lebih kreatif. Selain itu model parenting authoritative
ini juga mengajarkan pendidikan moral anak sejak usia dini dan dapat membangun
kedekatan antara orang tua dan anak.

1)     
Storytelling sebagai Metode
Mencerdaskan Anak

Storytelling dianggap dapat
meningkatkan kecerdasan anak karena melalui cerita orangtua dapat melihat
sejauh mana pemahaman yang dapat diambil oleh anak melalui cerita yang telah
dibacakan. Tidak hanya bercerita saja, bercerita sambil bernyanyi bernyanyi,
bercerita sambil bermain, bercerita sambil bertanya merupakan cara yang pas
untuk mengembangkan kecerdasan anak. Misalnya orang tua bercerita kepada anak
tentang sikancil yang cerdik, orang tua dapat bercerita sambil bernanyi dengan
anaknya saat sang kancil berjalan menuju sungai, orang tua dapat mengajak
anaknya bercerita sambil bermain saat sikancil menyeberangi sungai dengan
menginjak punggung buaya, dan setelah akhir cerita orangtua dapat bertanya
kembali kepada anaknya kenapa sikancil bisa menyeberangi sungai. Dengan metode
bercerita seperti ini dapat menumbuhkan kecerdasan anak karena anak dituntun
untuk menjawab bertanyaan dari cerita yang telah disampaikan, orangtua juga
bisa menyuruh anak untuk menceritakan kembali hal yang dipahami anak dari
cerita yang telah disampaikan. Maka dari sinilah kecerdasan anak dapat dilihat,
sejauh mana mereka mampu memahami cerita yang telah disampaikan oleh orangtua.

2)     
Storytelling Meningkatkan
Kecerdasan Bahasa Anak

Storytelling dianggap dapat
meningkatkan kecerdasan bahasa anak. Dianggap dapat meningkatkan kecerdasan
bahasa anak karena dalam penyampaian cerita biasanya memiliki banyak bentuk
kata sehingga saat bercerita akan muncul kata-kata baru yang belum pernah di
dengar oleh anak sebelumnya. Hal ini akan menimbulkan rasa ingin tau dari dalam
diri anak sehingga anak akan menanyakan apa makna atau maksud dari kata-kata
yang baru saja didengar oleh mereka, dari pertanyaan ini pencerita dapat
menjelaskan maksud dari kata-kata yang dipertanyakan oleh anak anak. Hal
semacam inilah yang dapat memperkaya pengetahuan bahasa bagi anak. Contohnya
saja dalam sebuah kelas seorang guru sedang bercerita kepada muridnya, ketika
sedang bercerita sang murid mengacungkan tangan dan bertanya makna dari kata
“lembah” karena baru mendengarkan kata itu dari cerita yang dibacakan oleh
gurunya, maka gurunya menjawab lembah merupakan tanah yang rendah di kiri dan
kanan di dekat sungai atau gunung. Maka dari pemaparan sang guru maka anak
mengerti makna dari kata-kata yang belum mereka ketahui sebelumnya. Dari contoh
ini maka dapat difahami bahwa melalui bercerita akan menambah kosa kata yang
belum diketahui oleh anak, yaitu dapat menambah tingkat kecerdasan bahasa pada
anak usia dini.

3)     
Storytelling Membuat Anak
Kreatif

Storytelling mampu
meningkatkan kreatifitas anak. Dianggap mampu meningkatkan kreatifitas anak
karena dalam proses bercerita anak dapat berimajinasi dan membayangkan hal yang
diceritakan oleh pencerita. Misalkan saja orang tua bercerita kepada anaknya
Cinderella keracunan karena memakan apel yang diberikan oleh nenek sihir, orang
tua dapat memperlihatkan bagaimana bentung apel dan warna apel kepada sang
anak. Maka dari itu anak akan mengetahui apel bentuknya bulat dan berwarnah
merah. Setelah bercerita orangtua bisa menyuruh anak untuk menggambar apel,
maka dari situ tingkat kreatif sang anak dapat dilihat. Maka dari contoh ini
dapat dikatakan storytelling dapat meningkatkan kreatifitas anak.8

4)     
Storytelling Mengajarkan
Moral pada Anak Usia Dini

Dalam sebuah
cerita akan terdapat tokoh protagonis yang dapat dijadikan tokoh panutan.
Dengan metode ini orang tua dapat memberikan gambaran bagaimana perilaku orang
baik yang dapat ditiru oleh anak. Misalnya orang tua bercerita kepada anaknya
bahwa Bawang Putih adalah seorang anak yang jujur dan patuh kepada kedua
orangtuanya, Bawang Putih selalu mengikuti apa perintah ibunya dan tidak
melakukan hal yang dilarang oleh ayahnya, Bawang putih juga seorang anak yang
rajin sekolah, belajar dan taat beribadah, Bawang Putih selalu bersyukur kepada
tuhan saat diberi pertolongan, karena sikap baiknya Bawang Putih hidup
berbahagia. Berbeda dengan Bawang Merah yang jahat, suka menyuruh Bawang Putih,
suka berbohong, sering bolos sekolah, dan malas beribadah, oleh karena itu
bawang merah hidup dalam kesusahan. Melalui cerita ini orang tua dapat
memberikan nilai moral kepada anaknya bahwa hal-hal yang dapat diambil atau
ditiru oleh anak adalah tokoh baik karena orang baik akan mendapat balasan yang
baik, justru sebaliknya orang jahat akan mendapat balasan yang jahat. Dari contoh
diatas dapat dipahami bahwa storytelling dapat mengajarkan nilai moral kepada
anak.9

5)     
Membangun Attachment (Kelekatan)
Antara Orangtua dan Anak

Storytelling
bukan hanya dapat mengajarkan moral kepada anak tetapi juga dapat membangun
kedekatan orangtua dan anak. Karena dengan bercerita maka akan terjalin
komunikasi yang efektif dari orangtua kepada anak. Orangtua dituntut untuk
memberikan situasi yang menyenangkan bagi anak sehingga anak dapat bertanya
kepada orangtuanya saat ada hal yang tidak dipahami, maka orangtua dituntut
mampu menjelaskan secara tenang kepada anak. Contohnya saja saat bercerita anak
bertanya kepada orangtuanya kenapa ibu tiri Cinderalla itu jahat, maka orangtua
dituntut menjelaskan dengan tenang. Maka dari contoh dapat difahami bahwa
orangtua yang mampu menjawab pertanyaan dari anak akan terlatih secara
emosional dari sinilah kedekatan antara orang tua dan anak dapat terjalin.10

 

2.      Hasil

Hasil
dari penelitian ini yaitu metode yang paling tepat untuk meningkatkan
kecerdasan anak pada saat usia dini yaitu metode storytelling sebagai
metode parenting dengan model pola asuh authoritative. Kebanyakan guru
pada pendidikan anak usia dini menerapkan metode ini dalam proses belajar
mengajar. Tidak hanya guru orangtua juga banyak menggunakan metode ini,
kebanyakan dari orang tua menceritakan sebuah cerita kepada anaknya ketika
sebelum tidur. Metode ini dianggap dapat meningkatkan kecerdasan anak. Metode
ini juga yang paling digemari oleh anak. Metode ini dianggap tepat karena
dengan metode bercerita anak merasa lebih santai karena tidak merasa dimarahi,
anak-anak akan lebih mudah mengingat atau merekam cerita daripada gambaran
secara langsung. Selain itu, melalui cerita anak akan lebih faham maksud atau
hikmah dari cerita, apa saja hal yang boleh dan yang tidak boleh untuk
dilakukan. Metode storytelling memiliki banyak manfaat bagi anak
diantaranya, untuk meningkatkan kecerdasan anak, meningkatkan kecerdasan bahasa
anak, kreatifitas, penanamkan pendidikan moral, menanamkan sikap simpati bagi
sesama kepada anak, dan juga metode ini sangat berguna untuk mendekatkan
orangtua dengan anak. Selain banyak manfaat dalam storytelling ada hal
yang harus diperhatikan yaitu pemilihan jenis cerita, cerita yang dibacakan
kepada anak haruslah yang sesuai dengan kemampuan pemahaman anak. Selain jenis
cerita hal yang harus diperhatikan yaitu gaya bahasa, menggunakan bahasa yang
sederhana akan membuat anak lebih faham dan mengerti dari makna yang terkandung
dalam cerita.

 

E.    
Simpulan dan Saran

1.     
Simpulan

Simpulan dari penelitin diatas yaitu untuk
membangun kecerdasan anak terutama pada masa golden age dibutuhkan usaha dan
perjuangan yang maksimal. Untuk dapat meningkatkan kecerdasan anak dibutuhkan
metode-metode, salah satu metode yang banyak digunakan adalah metode
storytelling sebagai metode parenting atau pola asuh yang dapat diterapkan
kepada anak. Model parenting pun terbagi lagi menjadi tiga model yaitu pola asuh authoritarian,
pola asuh authoritative dan pola asuh permisive. Model yang cocok
digunakan untuk meningkatkan kecerdasan anak yaitu model pola asuh
authoritative. Model ini dipercaya dapat menstimulus kecerdasan anak sejak usia
dini. storytelling dengan menggunakan model ini memiliki berbagai macam
manfaat bagi anak yaitu mencerdaskan anak, mengajarkan pendidikan moral kepada
anak, selain itu juga bermanfaat untuk meningkatkan kreatifitas anak dan
menjalin hubungan yang lebih dekat lagi antara orang tua dan anak. Namun ada
hal yang perlu diperhatikan dalam menerapkan metode ini yaitu cerita yang akan
disampaikan kepada anak haruslah yang sesuai dengan umur dan kemampuan anak
dalam mencerna isi dari cerita yang disampaikan.

2.     
Saran

Diharapkan
untuk orang tua dalam proses mendongeng untuk anak harus memperhatikan
aspek-aspek bercerita agar cerita yang disampaikan oleh orang tua dapat
dipahami dengan mudah oleh anak. Orang tua harus mampu memilih cerita yang
dapat menstimulus anak untuk meningkatkan kecerdasan emosi anak. Cerita yang
dipilih haruslah sesuai dengan usia anak, anak pada usia dini tidak mampu
mencerna cerita yang berat pilihlah cerita dengan gaya bahasa yang sederhana.

1 Muallifah. “STORYTELLING SEBAGAI
METODE PARENTING UNTUK PENGEMBANGAN KECERDASAN ANAK USIA DINI.” Jurnal
Psikoislamika Vol. 10, No. 1 (2013). h.99.

2 Adhim, F. 2006. Positive Parenting
cara-cara Islami Mengembangkan Karakter positif Pada Anak. Bandung: Mizan Media
Utama

3 Creswell, John W. Research Design: Pendekatan
Kualitatif, Kuantitatif, Dan Mixed. Ed. 3. Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
2010. h. 352.

4 Kuntum Khaira. “MELAHIRKAN GOLDEN GENERATION MELALUI
GOLDEN PARENTING.” e-Journal Institut Agama Islam Negeri Batusangkar Vol.
4, No. 1 (2016). h. 294.

5 Rita Diyah Ayuni. “PENGARUH STORYTELLING TERHADAP
PERILAKU EMPATI ANAK.” Jurnal Psikologi Universitas Diponegoro Vol 12, No. 2
(2013).

6 Kuntum Khaira. “MELAHIRKAN GOLDEN GENERATION MELALUI
GOLDEN PARENTING.” e-Journal Institut Agama Islam Negeri Batusangkar Vol.
4, No. 1 (2016). h. 296

7 Muallifah. “STORYTELLING SEBAGAI METODE PARENTING
UNTUK PENGEMBANGAN KECERDASAN ANAK USIA DINI.” Jurnal Psikoislamika Vol.
10, No. 1 (2013). h. 101

8 Nyoman Radin Amanda, Putu Aditya Antara dan Mutiara
Magta. “HUBUNGAN POLA ASUH ORANG TUA DENGAN REGULASI DIRI ANAK USIA 5-6 TAHUN.”
e-Journal Pendidikan Anak Usia Dini Universitas Pendidikan Ganesha Vol. 4,
No. 2 (2016).

9 M. Arif Khoeruddin, Imam taulabi dan Ali Imron.
“MENUMBUHKAN MINAT BACA SEJAK DINI DI TAMAN BACA MASYARAKAT.”Jurnal Lisan
Al-Hal Vol. 9, No. 1 (juni 2017). h. 153.

10 Saiful Hadi. “POLA PENGASUHAN ISLAMI DALAM PENDIDIKAN
KELUARGA.” Jurnal Tadris Vol. 12, No. 1 (Juni 2017). h. 124.

x

Hi!
I'm Rick!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out